Pernah nggak sih ngerasa bahagia banget pas dapet kabar kenaikan gaji atau bonus tahunan cair? Di kepala kita sudah terbayang tabungan bakal makin gendut dan investasi makin lancar. Tapi anehnya pas udah jalan tiga atau enam bulan kok rasanya sama saja ya. Saldo di akhir bulan tetap mepet dan kita tetap merasa 'kurang' buat beli ini-itu. Jujur aja kita sering terjebak dalam lingkaran setan yang namanya lifestyle inflation.
Fenomena ini sebenarnya sangat manusiawi tapi kalau dibiarkan bisa berbahaya buat masa depan finansial kamu. Bayangin deh kalau setiap kali pendapatan naik pengeluaran kamu juga ikut naik di level yang sama. Hasilnya adalah Zero Net Progress. Kamu kerja makin keras tanggung jawab makin besar tapi kebebasan finansial kamu nggak bergerak satu langkah pun dari tempat semula.
Dalam dunia psikologi keuangan ada istilah keren yang namanya Hedonic Treadmill. Konsep ini menjelaskan kalau manusia punya kecenderungan untuk cepat beradaptasi dengan level kebahagiaan baru. Waktu dulu pertama kali kerja makan di pinggir jalan rasanya sudah nikmat banget. Tapi begitu gaji naik sedikit kita mulai merasa harus makan di mall. Nggak lama kemudian makan di mall jadi standar baru dan kita butuh fine dining buat ngerasa spesial lagi.
Masalahnya standar kepuasan kita itu terus bergeser ke kanan. Kita nggak pernah merasa 'sampai' karena otak kita selalu mencari dopamin dari hal-hal baru yang lebih mahal. Di sinilah pentingnya memahami Psychology of Spending. Kita sering beli barang bukan karena fungsinya tapi karena status atau perasaan yang diberikan barang itu saat kita membelinya.
Lifestyle inflation bukan berarti kamu nggak boleh menikmati hasil kerja keras. Masalah muncul ketika kenaikan standar hidup kamu terjadi secara tidak sadar dan tanpa rencana.
Setiap rupiah yang kamu habiskan buat upgrade kopi dari kopi sachet ke kopi artisan sebenarnya punya harga yang lebih mahal dari sekadar angka di struk. Dalam ekonomi ini disebut Opportunity Cost. Uang 50 ribu yang kamu habiskan hari ini untuk sesuatu yang nggak terlalu penting sebenarnya punya potensi jadi jutaan rupiah di masa depan kalau diinvestasikan.
Coba pikirin lagi sebelum ganti gadget terbaru padahal yang lama masih lancar jaya. Apakah fitur baru itu sebanding dengan waktu pensiun yang mungkin harus tertunda setahun gara-gara uangnya habis buat konsumsi? Menghitung opportunity cost bakal bantu kamu buat berpikir lebih panjang sebelum gesek kartu atau klik check out.
Artikel Lainnya
Wealio
Budget, investasi, dan net worth dalam satu tempat.
70%
Pekerja terjebak lifestyle inflation
0
Progress tabungan tanpa strategi
Nah buat kamu yang mau mulai ngerem dan balik ke jalur yang benar yuk coba terapkan beberapa langkah konkret ini. Tenang aja ini bukan soal hidup pelit kok tapi soal hidup lebih sadar.
Aturan 48 Jam
Kalau lihat barang yang dipengen banget jangan langsung beli. Tunggu 48 jam. Biasanya setelah dua hari rasa kepengen itu bakal hilang dan kamu sadar kalau itu cuma emosi sesaat.
Gunakan waktu ini buat mikir apakah barang ini beneran perlu.
Reverse Budgeting
Begitu gaji masuk langsung potong porsi buat tabungan dan investasi di awal. Anggap aja uang itu nggak pernah ada. Sisanya baru deh kamu pakai buat biaya hidup dan senang-senang.
Ini jauh lebih efektif daripada nabung dari sisa uang di akhir bulan.
Pake Sinking Funds
Kalau pengen barang mewah atau liburan jangan ambil dari uang operasional. Sisihkan sedikit demi sedikit setiap bulan di kantong khusus sampai targetnya tercapai.
Wealio bisa bantu kamu track progress sinking funds ini dengan mudah.
Kekayaan yang sebenarnya adalah apa yang tidak dilihat orang lain seperti investasi yang tumbuh dan aset yang produktif bukan barang yang menempel di badan.
— Morgan Housel
Ingat ya tujuan akhir kita bukan buat kelihatan kaya di depan orang lain tapi beneran punya kebebasan buat menentukan pilihan hidup tanpa pusing mikirin cicilan. Yuk mulai kelola arus kas kamu dengan lebih cerdas bareng Wealio. Dengan pencatatan yang rapi kamu bakal sadar ke mana perginya setiap rupiah yang kamu dapetin dengan susah payah.